Para dosen di berbagai perguruan tinggi Amerika Serikat mengeluhkan penurunan kemampuan membaca di kalangan mahasiswa Generasi Z. Keterbatasan dalam mencerna teks bacaan berukuran panjang memaksa akademisi mengubah skema pembelajaran di dalam kelas demi menjaga pemahaman materi.
Fenomena merosotnya budaya literasi ini dialami langsung oleh tenaga pengajar di Pepperdine University hingga University of Notre Dame. Situasi tersebut dinilai mengancam daya kritis, tingkat empati, serta pola interaksi sosial generasi muda di tengah era digital.
Profesor humaniora dan sastra klasik di Pepperdine University, Jessica Hooten Wilson, membeberkan bahwa sebagian besar mahasiswa mendatangi ruang perkuliahan tanpa memodelkan persiapan membaca. Kondisi ini membuat staf pengajar harus menuntun proses membaca secara langsung.
“Ini bukan sekadar ketidakmampuan berpikir kritis. Ini adalah ketidakmampuan membaca kalimat,” kata Wilson dikutip dari Fortune, Minggu (2/8/2026).
“Saya merasa harus membacakan materi dengan suara keras karena tidak ada jaminan mereka membacanya malam sebelumnya,” ujarnya menambahkan.
Wilson memilih penyesuaian teknis untuk menyiasati hambatan belajar tersebut. Pihaknya kini rutin membacakan teks bersama para siswa sembari mengulas makna tiap baris karya sastra secara berulang.
“Saya tidak mencoba menurunkan standar. Saya hanya harus menggunakan pendekatan pengajaran yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama,” kata ia.
Keluhan serupa disampaikan Profesor teologi di University of Notre Dame, Timothy O’Malley. Beban bacaan yang dahulu mencapai puluhan halaman per sesi kini memicu kepanikan bagi para peserta didik.
“Dulu mahasiswa akan mengerjakannya atau mengakui kalau meeka kesulitan. Sekarang, jika diberi bacaan sebanyak itu, mereka sering tidak tahu harus mulai dari mana,” ujarnya.
O’Malley mengamati kecenderungan mahasiswa yang beralih menggunakan ringkasan buatan kecerdasan buatan demi mempercepat tugas. Kebiasaan memindai data kilat untuk kebutuhan ujian menghilangkan proses pemahaman struktur argumen secara menyeluruh.
Profesor teologi di Abilene Christian University, Brad East, memandang kendala utama terletak pada krisis rasa percaya diri serta daya tahan konsentrasi. Di sisi lain, profesor Kellogg School of Management di Northwestern University, Brooke Vuckovic, menyebut separuh mahasiswa bisnisnya mengonfirmasi status sebagai pembaca pasif.
Minat baca warga berusia 18 hingga 29 tahun di Amerika Serikat tercatat rendah dengan rata-rata 5,8 buku sepanjang 2025 berdasarkan survei YouGov. Padahal, studi lembaga keuangan JPMorgan memperlihatkan kebiasaan membaca menjadi faktor dominan di lingkaran kelompok pengusaha sukses.