Peserta Seleksi Beasiswa PDDI Dosen Keluhkan Biaya Tes dan Penilaian Gugur

Seleksi Beasiswa PDDI Dosen menuai kritik terkait transparansi biaya Tes Bakat Skolastik dan sistem gugur penilaian.

Proses seleksi Beasiswa Peningkatan Kualifikasi Akademik atau Beasiswa PDDI bagi dosen memicu gelombang kekecewaan dari para pendaftar. Sejumlah peserta menilai pelaksanaan ujian kali ini minim transparansi serta memberatkan secara finansial.

Keluhan utama tertuju pada pelaksanaan Tes Bakat Skolastik (TBS) yang berbayar namun tidak memberikan hasil nilai secara terperinci. Kondisi ini membuat peserta kesulitan mengetahui posisi capaian nilai mereka dibanding pendaftar lain.

Ketidakjelasan Informasi Hasil Tes Berbayar

Para pendaftar mengaku telah mengeluarkan dana pribadi serta meluangkan waktu khusus untuk mengikuti ujian tersebut. Kendati demikian, panitia penyelenggara hanya menyampaikan kelulusan secara tertutup melalui pesan surat elektronik masing-masing.

Model pengumuman individual ini memutus akses pendaftar untuk mengetahui ambang batas kelulusan maupun sebaran rentang nilai nasional. Peserta merasa berhak memperoleh rincian skor objektif sebagai bentuk pertanggungjawaban atas biaya pendaftaran yang telah dibayarkan.

Beban finansial yang ditanggung para tenaga pengajar ini dinilai cukup besar karena mencakup berbagai persiapan administrasi. Komponen biaya mencakup pengurusan surat penerimaan perguruan tinggi, pemeriksaan kesehatan, tes bebas narkoba, hingga biaya pelaksanaan tes kemampuan dasar.

Pengeluaran tersebut jika ditotal berpotensi menyedot anggaran yang setara dengan akumulasi pendapatan bulanan seorang tenaga pengajar. Kegagalan tanpa kejelasan indikator penilaian membuat modal finansial serta usaha akademis peserta menguap begitu saja.

Penetapan Tahap Sistem Gugur Tanpa Pemberitahuan

Kekecewaan peserta kian memuncak saat mengetahui bahwa tahapan tes skolastik difungsikan sebagai penyaring utama yang bersifat menggugurkan. Ketentuan ini dinilai tidak diinformasikan secara terbuka sejak awal pembukaan pendaftaran.

Peserta sebelumnya telah diminta menguras energi untuk menyusun proposal penelitian serta esai ilmiah dalam jangka waktu yang panjang. Namun seluruh berkas akademis tersebut sama sekali tidak diperiksa akibat gugur mendadak di tahap ujian dasar.

Salah satu pendaftar menyampaikan keluhannya terkait ketidakpastian aturan main penyaringan berkas ini secara langsung.

“Kalau sejak awal TBS memang menjadi penentu utama dan peserta yang tidak lolos TBS otomatis gugur, seharusnya informasi tersebut disampaikan secara jelas sejak awal.”

Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan mendalam atas skema penyaringan yang dinilai kurang menghargai kerja keras penyusunan berkas akademis.

Efisiensi Waktu dan Beban Finansial Pengajar

Sistem gugur yang diterapkan secara mendadak membuat tahapan pembuatan dokumen ilmiah terasa sia-sia. Pengorbanan pikiran dan waktu yang dicurahkan selama berbulan-bulan tidak mendapatkan porsi evaluasi dari tim penilai.

Kondisi ini memicu pertanyaan besar dari kalangan peserta mengenai relevansi pembuatan syarat berkas yang rumit di awal pendaftaran. Seorang pendaftar melontarkan kritik pedas mengenai efisiensi penyusunan dokumen tersebut.

“Lalu pertanyaannya, untuk apa peserta diminta menyusun proposal dan esai dengan matang jika pada akhirnya seluruh usaha tersebut tidak pernah dinilai karena gugur di tahap TBS?”

Para dosen berharap pihak penyelenggara beasiswa melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem seleksi penerimaan mendatang. Keterbukaan informasi rentang nilai dan kejelasan aturan tahapan menjadi tuntutan utama demi menjaga kepercayaan publik.